Welcome to Iamfauzie.blogspot.com - Welcome To My Blog's - Welcome to Iamfauzie.blogspot.com - Welcome To My Blog's - Welcome to Iamfauzie.blogspot.com - Welcome To My Blog's - Welcome to Iamfauzie.blogspot.com - Welcome To My Blog's
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

Serat Non Kayu untuk Mobil Mewah Eropa

Oleh Zika Zakiya | http://ngi.cc/nEi

Serat Non Kayu untuk Mobil Mewah Eropa
 
Limbah pertanian dan perkebunan ternyata bisa digunakan secara maksimal untuk mengganti peran kayu. Selain itu bisa digunakan pula serat nonkayu seperti sisal, rami, kenaf, dan nenas.

Limbah dan serat alam ini sudah digemari pabrikan Eropa untuk perakitan mobil-mobil mewahnya. Di antaranya Audi, BMW,  atau Daimler AG. Salah satu produk termewahnya, Mercedes S Class, bahkan telah menggunakan komposit serat alam pada 27 bagian interiornya.

Hal ini dinyatakan Subyakto, profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam orasinya 'Tekhnologi Pengembangan Serat Alam Sebagai Subtitusi Bahan Industri Perkayuan'. "Serat alam merupakan sumber selulosa, yaitu polimer alam penyusun serat tanaman, selaian hemiselulosa dan lignin," ujar Subyakto dalam acara pengukuhannya sebagai profesor riset di Widya Graha LIPI, Rabu (21/12).

"Uni Eropa Directive End of Life Vehicles mensyaratkan pada tahun 2015 semua mobil baru 95 persen bahannya harus bisa didaur ulang."

Serat alam selama ini telah digunakan untuk bahan tekstil, tali, kerajinan, kertas, komponen otomotif, dan bahan konstruksi bangunan. Pemanfaatan ini sangat berguna sebagai pengganti kayu yang beberapa tahun belakangan penggunaannya menuai kontroversi karena bisa menyebabkan penggundulan hutan.

Namun, serat alam juga memiliki keterbatasan seperti kualitas yang tidak seragam, sumber bahan baku yang tidak kontinyu, sulit terikat dengan polimer yang bersifat hydrophobic, penyerapan air tinggi, serta kekuatan yang rendah. Tapi kendala ini bisa diatasi dengan kemajuan teknologi budi daya tanaman.

Subyakto juga menyarankan agar Pemerintah Indonesia bisa memanfaatkan serat alam ini dengan pengembangan komposit hijau (biokomposit). Caranya dengan membuat peraturan kebijakan dan penataan limbah pertanian dan perkebunan. Atau juga dengan mendorong industri yang memanfaatkan limbah ini. Serta memberi dukungan dalam penelitian komposit hijau mulai dari penyiapan bahan baku sampai dengan budi daya.

Sistem Pesawat Nirawak Siap Diperkenalkan di Indonesia

Oleh Gloria Samantha  | http://ngi.cc/nEp

Sistem Pesawat Nirawak Siap Diperkenalkan di Indonesia
 
Bertujuan memperkenalkan teknologi robotik terkini di masyarakat, Institut Teknologi Telkom, Global Technology Service Indonesia, dan Grup Robot Indonesia berencana menggelar suatu seminar nasional tentang sistem pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle -UAV)

UAV memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai jenis misi penginderaan jarak jauh berbasis video maupun foto (still image). Oleh karenanya, UAV sering dipergunakan dalam fungsi pengawasan, patroli udara, foto udara, dan sebagainya.

Seminar nasional bertema “National Seminar on UAV, Technology and Its Applications” ini akan diselenggarakan Sabtu (24/12) di GSG Institut Teknologi Telkom, Bandung.
Di samping pengenalan serta transfer ilmu dari pakar, seminar ini pun digagas untuk memperkuat sosialisasi antar para pecinta/pemerhati robotik dari seluruh Indonesia. Serta mempublikasikan bahwa Indonesia memiliki teknologi UAV yang berkualitas.

Pembicara dalam seminar antara lain ahli bidang UAV Indonesia Dipl.-Ing Endri Rachman, Dekan Fakultas Elektro dan Komunikasi IT Telkom Bandung Ir. A. Ali Muayyadi, serta Pendiri Grup Robot Adiatmo Rahardi.
Nantinya di dalam seminar ini, peserta tak hanya diberi pemaparan, tetapi ada juga kesempatan melihat demo langsung penerbangan pesawat UAV Kujang yang merupakan salah satu desain milik Endri Rachman.

Tata Surya Miliki Dua Anggota Lagi Seukuran Bumi, Planet Baru Ditemukan


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Misi Kepler dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan telah menemukan dua planet seukuran Bumi yang mengorbiti sebuah bintang seperti Matahari dalam sistem tata surya kita, demikian NASA seperti dikutip Reuters, Kamis (22/12)
NASA menyebut penemuan ini adalah tonggak bersejarah dalam misi pencarian planet-planet serupa Bumi.
Kedua planet yang dinamai Kepler-20e dan Kepler-20f ini adalah planet-planet terkecil di luar sistem tata surya yang dikonfirmasi mengelilingi sebuah bintang seperti Matahari, demikian NASA.
Kedua planet baru  ini terlalu dekat ke bintang mereka untuk bisa disebut berada di zona layak ditempati kehidupan (habitable zone) di mana ada air likuid pada permukaan planet.
"Penemuan ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa planet-planet seukuran Bumi ada di sekitar bintang-bintang lain (di luar Matahari) dan bahwa kita mampu mendeteksinya," kata Francois Fressin dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.
Kedua planet baru ini diyakini sebagai planet berbatu.  Kepler-20e agak lebih kecil dibandingkan Venus, dengan radius 0,87 kali dari jari-jari Bumi.

Kepler-20f sedikit lebih besar dibandingkan Bumi dengan jari-jari 1,03 kali jari-jari Bumi. Kedua planet ini berada di sistem beranggotakan lima planet yang dinamai dengan Kepler-20, sedangkan jaraknya adalah 1.000 tahun cahaya dalam konstelasi Lyra.Kepler-20e mengorbiti bintangnya setiap 6,1 hari, sementara Kepler-20f mengorbit setiap 19,6 hari.Kepler-20f, yang bersuhu 800 derajat Fahrenheit, mirip dengan rata-rata hari planet Merkurius.
Suhu di permukaan Kepler-20e yang mencapai lebih dari 1.400 derajat Fahrenheit, bisa melelehkan kaca.
Teleskop ruang angkasa Kepler mendeteksi planet-planet dan calon planet dengan mengukur kekuatan cahaya lebih dari 150.000 bintang ketika planet-planet melintas di depan bintang-bintangnya. (*)

Senin, 21 November 2011

Ilmuwan Temukan Binatang Aneh Mirip Tikus Dan Gajah


BONI DODORI (Berita SuaraMedia) - Seekor mamalia berbulu dengan hidung mirip belalai muncul di hutan terpencil Afrika.

Tikus agak besar ini diperkirakan spesies baru. Ahli konservasi yang mempelajari keanekaragaman hayati di hutan Boni-Dodori, pantai timur laut Kenya, telah mendirikan jebakan kamera di wilayah tersebut setelah seorang ilmuwan melihat binatangsengi (tikus gajah) yang tidak dikenal.
Dari gambar tersebut, peneliti mengenali warna merah marun di sisi bahu dan punggung spesies itu. Hewan ini juga berciri pantat yang lebih rendah dengan warna hitam.
Secara garis besar, ilmuwan menilai bahwa makhluk ini lebih besar dibandingkan tikus berbelalai biasa.
Diperkirakan, objek itu miliki berat 600 gram, sepanjang 550 milimeter dan memiliki ekor 250 milimeter.
Tim ilmuwan yang berasal dari Zoological Society of London (ZSL) dan Kenya Wildlife Service (KWS) ini menganalisa DNA binatang itu untuk mengkonfirmasi apakah benar termasuk spesies baru.
Jika terbukti, hewan ini menjadi spesies ke-18 dari sengi yang masuk di keluarga Macroscelididae di mana semuanya berasal dari Afrika.
“Nenek moyang kita sering salah memahami hewan ini"
"Strategi perkawinan monogami dan moncong karismatik mereka yang fleksibel membuat spesies ini sangat menawan,” kata peneliti dari California Academy of Science Galen Rathbun. (ar/dt/dlm) www.suaramedia.com

'Bekas Luka' Pada Bulan Ungkap Sejarah Kelam Di Masa Lalu

BROWN (BErita SuaraMedia)  - Bekas luka di permukaan bulan mengungkapkan tindak kekerasan yang dialaminya. Bahkan, ini menyingung sejarah Bumi. Pernyataan ini diungkapkan oleh ahli geologi planet di Brown University James Head. “Dampak besar di awal pembentukan sistem tata surya menjadi faktor dalam pembentukan kehidupan sekaligus pesatnya perkembangan periode pertama.”
Bekerja dengan peta permukaan bulan beresolusi tinggi, Head dan koleganya meneliti 5.185 kawah berdiameter sekitar 20 kilometer.
Tim mengidentifikasi sebagian besar kawah yang menjadi bagian tertua di bulan. Mereka menemukan bahwa sebuah objek berukuran lebih besar telah menghancurkan sebagian wilayah satelit Bumi ini.
Transisi tampaknya terjadi sekitar 3,8 juta tahun lalu. “Hal ini menegaskan bahwa ada perbedaan populasi saat ini dengan masa lalu,” ujar Head. Bahkan, fenomena tabrakan tersebut bisa mempengaruhi kehidupan planet secara tidak langsung.”
Ahli geologi planet di Goddard Soace Flight Center, NASA, di Maryland Noah Petro menyebutkan bahwa kejadian ini bisa jadi dialami pula oleh bumi.
“Saya pikir bulan merupakan bagian dari Bumi. Saat mempelajari bulan maka Anda juga mempelajari sejarah Bumi.
Peta yang berasal dari data yang dikumpulkan oleh Lunar Reconnaissance Orbiter, NASA, ini mengidentifikasi sisi selatan bulan dan utara di daerah yang tertua.
Peneliti juga menegaskan bahwa Aitken Basin, terletak di antara kutub sealtan bulan dan selatan ekuator bulan, yang memiliki diameter 2500 kilometer ini merupakan struktur yang terkena dampak paling tua di bulan.
Analis terbaru ini diungkapkan di jurnal Science menyangkut hasil dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter. Pesawat ini telah mengitari permukaan bulan selama setahun terakhir. (ar/inl/scd) www.suaramedia.com

Tujuh Misteri Terbesar Mars

A. Wisnubrata

NASA/JPL-Caltech/University of Arizona Kawah Rabe yang berwarna biru di Planet Merah.

KOMPAS.com — Mars dikenal sebagai "bintang api" oleh astronom kuno China. Peneliti masa kini sering menyebutnya sebagai planet merah.
Meskipun puluhan wahana ruang angkasa telah dikirimkan ke Mars, masih banyak hal yang menjadi teka-teki dan memunculkan pertanyaan mengenai planet tersebut. Inilah beberapa misteri Planet Mars yang menarik disimak, seiring dengan rencana NASA meluncurkan wahananya, Mars Science Laboratory Curiosity, ke sana pada 25 November mendatang.

1. Mengapa Mars memiliki dua wajah berbeda?
Para peneliti sejak lama bertanya-tanya mengapa dua sisi Planet Mars memiliki perbedaan yang mencolok? Belahan utara Mars bisa dikatakan datar dan berupa dataran rendah, bahkan termasuk salah satu permukaan paling datar, paling halus di tata surya. Kondisi itu barangkali terbentuk oleh air yang diduga pernah mengalir di permukaan planet merah.
Sementara itu, kebalikannya, belahan selatan Mars memiliki permukaan yang terjal, berkawah, dan sekitar 4 km hingga 8 km lebih tinggi dibanding belahan utara. Bukti-bukti terkini memunculkan perkiraan bahwa perbedaan antara sisi utara dan selatan Mars itu diakibatkan oleh batu raksasa dari ruang angkasa yang menghantam Mars pada masa lalu.

2. Dari mana asal gas metana di Mars?
Metana—molekul organik paling sederhana—pertama kali ditemukan di atmosfer Mars oleh wahana Mars Express milik Badan Antariksa Eropa pada tahun 2003. Di Bumi, sebagian besar gas metana di atmosfer dihasilkan oleh makhluk hidup. Gas metana diduga sudah ada di atmosfer Mars sejak 300 tahun lalu. Artinya, apa pun sumbernya, keberadaan gas tersebut belum lama.
Meski begitu, gas metana bisa juga muncul di luar kehidupan, seperti misalnya dari aktivitas vulkanik. Wahana ExoMars milik ESA yang akan diluncurkan pada 2016 bakal meneliti komposisi kimia atmosfer Mars dan mempelajari keberadaan metana di sana.

3. Di manakah lautan Mars?
Banyak misi ke Mars menemukan bukti-bukti bahwa planet tersebut pernah memiliki kondisi cukup hangat sehingga air tidak membeku dan bisa mengalir di permukaannya. Bukti-bukti itu antara lain berupa wilayah yang seperti bekas lautan, jaringan-jaringan lembah, delta-delta sungai, dan sisa-sisa mineral yang seolah terbentuk oleh air.
Meski begitu, pemodelan iklim Mars belum bisa menjelaskan bagaimana temperatur hangat itu bisa terjadi, mengingat cahaya Matahari jauh lebih lemah dahulu. Ada dugaan, bentuk-bentuk di atas terbentuk bukan oleh air, melainkan oleh angin atau mekanisme lain. Namun masih tetap ada bukti bahwa Mars pernah cukup hangat untuk mendukung keberadaan air dalam bentuk cair, setidaknya di satu tempat di permukaannya.

4. Apakah ada air mengalir di permukaan Mars saat ini?
Meski sebagian besar bukti menunjukkan bahwa air pernah mengalir di permukaan Mars, masih menjadi teka-teki apakah masih ada air yang mengalir di permukaan planet tersebut saat ini. Tekanan atmosfer Mars terlalu rendah, sekitar satu per seratus tekanan di Bumi sehingga air sulit berada di permukaannya. Namun ada jalur gelap dan sempit di lereng-lereng Mars yang memunculkan dugaan bahwa ada air yang mengalir tiap musim semi.

5. Apakah ada kehidupan di Mars?
Wahana pertama yang berhasil mendarat di Mars, Viking 1 milik NASA, memunculkan teka-teki yang masih misterius saat ini: Adakah bukti kehidupan di Mars? Viking adalah wahana yang secara khusus ditugaskan untuk mencari kehidupan di Mars, dan apa yang ditemukan masih menjadi perdebatan hingga hari ini. Wahana itu telah menemukan adanya molekul organik seperti metil klorida dan dichloromethane. Walau demikian, senyawa-senyawa itu bisa jadi merupakan kontaminasi dari Bumi yang terbawa saat wahana bersiap meluncur di Bumi.
Permukaan Mars sendiri sangat tidak bersahabat bagi makhluk hidup dalam hal suhu yang sangat rendah, radiasi, kondisi kering, dan faktor-faktor lain. Walau begitu, ada makhluk-makhluk hidup yang bisa bertahan di lingkungan ekstrem di Bumi, seperti di Lembah Kering Antartika yang dingin dan kering, atau wilayah amat kering di Gurun Atacama di Cile.
Secara teori, selalu ada kehidupan, seperti ada air dalam bentuk cair di Bumi. Kemungkinan pernah adanya lautan di Mars memunculkan pertanyaan apakah pernah ada kehidupan di sana. Bila ada, apakah sampai saat ini makhluk-makhluk hidup itu tetap eksis? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin membantu memberikan sedikit pencerahan terhadap pertanyaan seberapa umumkah kehidupan di jagat raya.

6. Apakah kehidupan di Bumi berawal dari Mars?
Meteorit yang ditemukan di Antartika dan berasal dari Mars—terlempar dari planet merah akibat tabrakan kosmis—memiliki struktur serupa dengan batuan yang dihasilkan mikroba di Bumi. Meski penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa struktur itu terbentuk karena proses kimia dan bukan biologi, perdebatan mengenai Mars sebagai asal-usul kehidupan di Bumi masih berlanjut. Beberapa orang masih memegang teori bahwa kehidupan di Bumi berasal dari Mars, dan terbawa ke Bumi bersama meteorit.

7. Bisakah manusia hidup di Mars?
Untuk menjawab apakah kehidupan pernah ada atau masih ada di Mars, barangkali manusia perlu pergi ke sana dan mencarinya sendiri.
Pada tahun 1969, NASA pernah merencanakan misi berawak ke Mars pada tahun 1981 dan membangun stasiun permanen di sana tahun 1988. Namun perjalanan antarplanet itu ternyata menghadapi tantangan ilmiah dan teknologi yang tidak kecil.
Para ilmuwan harus mengatasi berbagai masalah perjalanan antarplanet, seperti makanan, air, oksigen, efek gravitasi mikro, kemungkinan radiasi yang berbahaya, dan kenyataan bahwa astronot yang pergi ke sana akan berada jutaan kilometer dari Bumi sehingga tidak mudah untuk mendapat bantuan bila terjadi sesuatu. Selain itu, mendarat, bekerja, dan hidup di planet lain lalu kembali ke Bumi bukan perkara mudah.
Meski begitu, banyak peneliti yang ingin melakukan misi itu. Tahun ini, enam sukarelawan hidup terisolasi seolah sedang berada dalam wahana ruang angkasa selama 520 hari dalam proyek yang disebut Mars500. Simulasi penerbangan ruang angkasa terlama ini bertujuan untuk meniru perjalanan ke Mars.
Banyak sukarelawan bahkan bersedia diterbangkan ke Mars meski kemungkinan tidak bisa kembali. Berbagai rencana juga dibuat, misalnya dengan mengirimkan mikroba pemakan batu terlebih dahulu, sebelum manusia didatangkan. Teka-teki mengenai apakah manusia akan pernah menjejakkan kaki ke Mars memang masih tergantung pada alasan, mengapa kita harus mencoba menjelajahi planet merah itu.

Minggu, 09 Oktober 2011

NASA Cari Astronot Baru


Fiddy Anggriawan - Okezone
detail berita
Astronot NASA (sumber:Google)
WASHINGTON - NASA mengumumkan akan mencari calon astronot yang baru pada awal bulan November mendatang.

Calon astronot yang berhasil diterima oleh NASA nantinya akan menjalankan berbagai misi, seperti ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan beberapa kegiatan eksplorasi luar angkasa masa depan yang lebih mendalam.

"Bagi para ilmuwan, insinyur dan profesional lainnya yang selalu bermimpi ingin melakukan penerbangan ke luar angkasa, ini adalah waktu yang sangat tepat untuk bergabung dengan kesatuan astronot," ungkap Janet Kavandi, direktur operasi awak pesawat di Johnson Space Center, Houston.

"Di kelas berikutnya para astronot baru akan mendukung misi ke ISS dan akan tiba melalui sistem transportasi yang saat ini sedang di kembangkan. Mereka juga akan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam program melanjutkan eksplorasi NASA yang akan mencakup misi keluar orbit Bumi rendah," lanjutnya, seperti dikutip TG Daily, Rabu (5/10/2011).

Sayangnya kebanyakan dari calon astronot NASA dibatasi dengan penetapan ketentuan yang cukup tinggi. Pelamar harus memiliki gelar sarjana insinyur, ilmu pengetahuan atau matematika dan bagi profesional harus memiliki pengalaman minimal tiga tahun bekerja di tempat yang relevan dengan jurusannya.

Di luar itu, para pelamar juga tidak mungkin bisa masuk sebagai calon astronot NASA tanpa adanya surat rekomendasi sebagai insiyur atau orang yang memiliki keahlian ilmu pengetahuan dan pengalaman yang luas mengenai kinerja dari pesawat jet.

Hanya 330 astronot yang pernah berhasil melewati proses seleksi yang melelahkan tersebut saat itu. Mereka termasuk guru, dokter, ilmuwan dan insinyur.

NASA mengharapkan untuk mengumumkan pilihan akhir penerimaan calon astronot pada tahun 2013 mendatang, dengan pelatihan yang akan dimulai pertama kali di bulan Agustus. (tyo)

Lapisan Ozon Ditemukan di Venus

Fiddy Anggriawan - Okezone
detail berita
Venus Exprees (sumber : Google)
CALIFORNIA - Pesawat ruang angkasa dari Badan Antariksa Eropa (ESA), yakni  Venus Express telah menemukan lapisan ozon yang tinggi di atmosfer Venus. Penemuan ini bisa membantu untuk melakukan pencarian kehidupan di planet lain.

Venus Express mengamati sebuah bintang yang terlihat dekat dengan Venus dan melalui atmosfernya. Ini adalah instrumen SPICAV yang menganalisis cahaya bintang, serta melihat kesamaan karakteristik ozonnya.

Menurut model komputer, ozon di Venus terbentuk ketika sinar matahari memecah molekul karbon dioksida dan melepaskan atom oksigen. Atom-atom ini kemudian terhempas oleh angin yang berada di sekitar sisi gelap planet ini. Di sini, mereka kemudian bergabung untuk membentuk dua molekul atom oksigen. Tapi juga kadang-kadang dapat membentuk tiga molekul atom ozon. Demikian seperti dikutip TG Daily, Jumat (7/10/2011).

Penemuan ini dapat membantu para astronom dalam perburuan mereka untuk mencari kehidupan di dunia lain. Ozon sebelumnya hanya ditemukan di atmosfer Bumi dan Mars. Ini merupakan sangat penting bagi kehidupan karena menyerap banyak sinar ultraviolet matahari.

Ozon dapat meningkatkan oksigen dan hal tersebut sudah terjadi di Bumi mulai 2,4 miliar tahun lalu. Meskipun alasan yang tepat tidak sepenuhnya dipahami, namun mikroba mengeluarkan oksigen sebagai gas buang yang diasumsikan telah memainkan peran penting.

Akibatnya, beberapa astrobiologi telah menyarankan jika karbon dioksida, oksigen dan ozon semuanya dapat ditemukan di atmosfer planet lain, itu bisa menunjukkan adanya kehidupan di sana.

Namun, jumlah ozon sangat penting, jumlah kecil di atmosfer Mars, misalnya, adalah hasil dari sinar matahari yang memecah molekul karbon dioksida dan sama terlihat hampir sama dengan Venus.

Pekerjaan teoritis oleh astrobiologi juga menunjukkan konsentrasi ozon dari sebuah planet minimal harus ada 20 persen dari nilai Bumi sebelum diketahui secara pasti di sana ada kehidupan. Hasil baru mendukung kesimpulan bahwa Venus jelas berada di bawah ambang batas ini.

"Kita bisa menggunakan observasi baru untuk menguji dan menyempurnakan skenario untuk mendeteksi kehidupan di dunia lain," tegas Franck Montmessin, yang memimpin penelitian ini. (tyo)

NASA Akan Amati Aktivitas Matahari Lebih Dekat


Fiddy Anggriawan - Okezone
detail berita
Ilustrasi Badai Matahari (sumber : Google)
WASHINGTON - NASA saat ini sedang mengembangkan Solar Orbiter Heliospheric Imager (SoloHI) dan Heavy Ion Sensor (HIS). Keduanya akan digunakan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) yang baru saja memilih misi Solar Orbiter.

Pesawat ruang angkasa berawak ini telah digunakan untuk mengamati matahari dari jarak yang lebih dekat daripada misi sebelumnya. Misi pengamatan dengan jarak yang lebih dekat ini akan dipimpin oleh ESA yang akan beroperasi sekira 21 juta mil dari permukaan matahari atau dekat dengan orbit Merkurius dan sekira 25 persen dari jarak antara matahari ke Bumi.

Barbara Giles selaku ilmuwan NASA menunjukkan titik pandang yang unik untuk meningkatkan kemampuan Orbiter dalam hal melakukan ramalan cuaca di ruang angkasa.

Inti dari pengamatan ini ialah melihat kemungkinan terjadinya badai matahari yang diperkirakan mampu membuat gangguan dalam medan elektromagnetik di Bumi. Hal tersebut dapat menimbulkan arus ekstrim jaringan nirkabel, mengganggu jaringan listrik dan menyebabkan pemadaman listrik meluas. Badai tersebut juga dapat mengganggu satelit, sistem komunikasi pesawat terbang di dekat kutub Bumi dan layanan telepon seluler.

"Solar Orbiter adalah misi menarik yang akan meningkatkan pemahaman kita tentang matahari dan lingkungannya," jelas Giles, seperti dikutip TG Daily, Jumat (7/10/2011).

"Kerjasama ini akan membuat babak baru dalam penelitaian heliofisika dan melanjutkan kemitraan yang kuat dengan komunitas sains internasional untuk melengkapi kegiatan eksplorasi di masa depan melalui robot dan manusia," tambahnya.

Tentunya, Solar Orbiter harus dekat dengan matahari untuk sampel angin matahari yang telah dikeluarkan dari permukaan matahari. Dengan demikian, pesawat ruang angkasa akan mengamati dengan rinci proses yang menjadi penyebab angin di permukaan matahari bergerak cepat. Setelah data diperoleh, langkah selanjutnya dari pengamatan ini ialah memberikan gambaran pemandangan di daerah kutub matahari.

Orbit elips pesawat ruang angkasa juga akan memungkinkan untuk mengikuti rotasi bintang, memfasilitasi pengamatan daerah tertentu yang mungkin lebih lama dari saat ini.

Peluncuran Solar Orbiter dijadwalkan akan diterbangkan pada 2017 dari Cape Canaveral Air Force Station, Florida. (tyo)

Titanium yang Melimpah Ditemukan di Bulan

Ahmad Taufiqurrakhman - Okezone
detail berita
Bulan ternyata menyimpan kandungan Titanium yang melimpah
PARIS - Ilmuwan mengklaim bahwa mereka telah menemukan limpahan di bulan, yang jumlahnya dikatakan jauh lebih banyak dari Bumi.

Seperti yang dikutip dari AFP, Minggu (9/10/2011), para ilmuwan mengatakan bahwa sebuah peta terbaru dari Bulan mengungkap jumlah masif dari bijih besi titanium yang 10 kali lebih banyak dari Bumi, sebuah temuan yang memungkinkan sebuah pertambangan di bulan untuk ke depannya.

Penemuan ini diambil melalui kamera di United States Lunar Reconnaissance Orbiter, yang meneliti permukaan di bulan, melihatnya dalam tujuh jenis gelombang cahaya.

Mark Robinson of Arizona State University, mempresentasikan penelitiannya tersebut di sebuah konferensi di Nantes, barat Perancis, bersama dengan Brett Denevi of Johns Hopkins University di Baltimore.

Mereka mengungkap penelitiannya dengan memakai sebuah sampel batuan Bulan yang dibawa ke Bumi oleh Apollo 17 pada tahun 1972, serta gambar-gambar di sekitar tempat pendaratan roket tersebut, dengan menggunakan teleskop angkasa Hubble.
(ATA)